Lonjakan yang Tidak Bisa Diabaikan
Data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan tren yang sulit dibantah. Sepanjang semester pertama 2026, volume transaksi QRIS menembus 12,55 miliar transaksi, tumbuh lebih dari 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai transaksi mencapai Rp600,69 triliun atau naik sekitar 89,5 persen secara tahunan. Layanan ini kini digunakan oleh sekitar 66 juta orang dan diterima di hampir 45 juta merchant di seluruh negeri—mayoritas di antaranya adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terbantu karena tidak perlu lagi menyediakan berbagai mesin EDC atau kode pembayaran terpisah.
Bank Indonesia bahkan menargetkan 70 juta pengguna dan 47 juta merchant QRIS hingga akhir 2026, sekaligus memperluas jangkauan lewat QRIS lintas negara yang kini terkoneksi dengan berbagai negara ASEAN dan Tiongkok. Limit transaksi pun telah dinaikkan hingga Rp20 juta per transaksi, membuka ruang bagi transaksi bernilai lebih besar, tidak hanya jajanan kaki lima.
Namun, Kesiapan Bukan Sekadar Angka Pertumbuhan
Di balik statistik yang mengesankan itu, kesiapan Indonesia menuju masyarakat cashless sepenuhnya masih menyisakan sejumlah tantangan nyata:
- Kesenjangan infrastruktur dan konektivitas.
Pertumbuhan pesat QRIS sebagian besar terjadi di wilayah perkotaan dengan jaringan internet stabil. Di banyak wilayah pelosok dan kepulauan, sinyal yang tidak konsisten membuat transaksi digital sulit diandalkan sepenuhnya—uang tunai masih menjadi opsi paling aman. - Literasi digital dan finansial yang belum merata.
Kemampuan menggunakan aplikasi pembayaran tidak otomatis diikuti pemahaman soal keamanan data, risiko penipuan, atau pengelolaan keuangan digital. Kelompok lanjut usia dan masyarakat dengan akses pendidikan terbatas cenderung tertinggal dalam adopsi ini. - Kepercayaan terhadap keamanan siber.
Maraknya modus penipuan berbasis QR palsu (quishing) dan phising membuat sebagian masyarakat tetap ragu sepenuhnya meninggalkan uang tunai sebagai opsi cadangan. - Ketergantungan sektor informal pada tunai.
Banyak transaksi di pasar tradisional, warung kecil, dan sektor informal lainnya masih mengandalkan uang fisik karena kebiasaan, kepercayaan personal antara penjual-pembeli, dan minimnya insentif untuk beralih.
Momentum yang Terus Menguat
Meski demikian, arah tren sulit dibalik. Ekosistem pendukung QRIS kini melibatkan puluhan bank, lembaga nonbank, dan lembaga switching yang terus memperkuat interoperabilitas sistem pembayaran nasional. Ditambah dengan perluasan konektivitas lintas negara dan kenaikan limit transaksi, digitalisasi pembayaran di Indonesia tampaknya bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran struktural jangka panjang.
Indonesia mungkin belum sepenuhnya siap meninggalkan uang tunai dalam waktu dekat—terutama karena faktor geografis, literasi, dan kepercayaan yang belum merata. Namun, lintasan pertumbuhannya menunjukkan bahwa transisi menuju masyarakat yang jauh lebih minim tunai (less-cash society) sedang berlangsung lebih cepat dari perkiraan banyak pihak, didorong oleh kombinasi kebijakan regulator, inovasi fintech, dan perubahan kebiasaan masyarakat sehari-hari.