Bagaimana QRIS Bisa Menghubungkan Berbagai Bank dan E-Wallet dalam Satu QR Code?

Afifah

Afifah

Contributor

12 Agustus 2026
5 min baca
1 dilihat
Ai-teknologi-keuangan

Saat berada di sebuah kedai, kita mungkin melihat satu QR Code di meja kasir. Menariknya, QR tersebut dapat dipindai menggunakan berbagai aplikasi pembayaran yang telah mendukung QRIS, meskipun aplikasi tersebut berasal dari bank atau penyedia jasa pembayaran yang berbeda.

Bagaimana satu QR Code bisa menghubungkan berbagai layanan pembayaran tersebut?

Jawabannya terletak pada standardisasi. QRIS bukan sekadar QR Code, melainkan standar pembayaran yang memungkinkan berbagai penyedia jasa pembayaran berinteraksi dalam satu ekosistem.

Bagaimana QRIS Bermula?

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dikembangkan oleh Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran dan mulai diperkenalkan pada 2019. Tujuannya adalah membuat transaksi menggunakan QR Code menjadi Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Andal (CEMUMUAH). Semua Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang menggunakan QR Code untuk pembayaran wajib menerapkan standar QRIS.

Sebelum QRIS diterapkan sebagai standar nasional, masing-masing penyedia pembayaran dapat menggunakan QR Code dengan sistemnya sendiri. Kondisi tersebut membuat merchant berpotensi harus menyediakan beberapa QR Code untuk menerima pembayaran dari layanan berbeda.

QRIS kemudian menyederhanakan persoalan tersebut melalui satu standar nasional. Kini, merchant cukup memiliki akun pada salah satu PJP penyelenggara QRIS untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi yang mendukung QRIS.

QR Code dan QRIS Bukan Hal yang Sama

QR Code merupakan teknologi barcode dua dimensi yang menyimpan informasi dalam pola berbentuk kotak. Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari berbagi informasi hingga pembayaran.

Sementara itu, QRIS adalah standar QR Code Pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia untuk digunakan dalam ekosistem pembayaran Indonesia. Jadi, QRIS bukan jenis QR Code baru.

Ketika QRIS dipindai, QR Code menjadi semacam pintu masuk informasi yang membantu aplikasi mengetahui informasi yang diperlukan untuk memulai transaksi.

Apa yang Ada di Dalam QR Code QRIS?

QR Code tidak menyimpan uang pengguna. QR Code membawa informasi yang digunakan dalam proses pembayaran.

Ketika dipindai, aplikasi pembayaran membaca informasi tersebut dan menggunakannya untuk memulai transaksi melalui sistem pembayaran.

Karena itu, QR Code yang ditempel di meja kasir bukanlah rekening bank atau dompet digital. QR Code berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi yang diperlukan agar pembayaran dapat diarahkan ke merchant yang tepat.

Mengapa Satu QRIS Bisa Dipakai Berbagai Bank dan E-Wallet?

Inilah bagian paling penting dari QRIS.

Bayangkan seorang pelanggan menggunakan aplikasi pembayaran dari PJP A, sedangkan merchant memperoleh layanan QRIS dari PJP B. Tanpa standar yang sama, kedua sistem tersebut perlu memiliki mekanisme khusus agar dapat berkomunikasi.

QRIS menyediakan standar yang memungkinkan transaksi tersebut diproses dalam ekosistem pembayaran yang sama.

Dalam pemrosesan QRIS terdapat beberapa pihak, termasuk Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), Lembaga Switching, Lembaga Standar, serta pengelola National Merchant Repository. PJP dan Lembaga Switching yang melakukan pemrosesan transaksi QRIS wajib memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia.

Dengan demikian, pengguna tidak perlu mengetahui bagaimana sistem di belakang layar saling berkomunikasi. Cukup gunakan aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS, pindai kode, lalu lakukan pembayaran.

Mengenal MPM dan CPM

QRIS memiliki dua model penggunaan QR Code, yaitu Merchant Presented Mode (MPM) dan Consumer Presented Mode (CPM).

Pada MPM, merchant menampilkan QR Code dan konsumen melakukan pemindaian.

MPM terbagi menjadi dua:

  • MPM Statis: QR Code tetap dan tidak memuat nominal transaksi. Konsumen memindai QR, memasukkan nominal, kemudian melakukan pembayaran.
  • MPM Dinamis: merchant memasukkan nominal terlebih dahulu melalui perangkat seperti EDC atau smartphone. QR Code kemudian ditampilkan untuk dipindai konsumen.

MPM statis terutama ditujukan untuk usaha mikro dan kecil, sedangkan MPM dinamis lebih sesuai untuk merchant dengan volume transaksi yang lebih tinggi.

Sementara itu, pada CPM, QR Code justru ditampilkan oleh konsumen melalui aplikasi pembayaran dan kemudian dipindai oleh merchant. Model ini ditujukan untuk kebutuhan transaksi dengan kecepatan tinggi, seperti transportasi, parkir, dan ritel modern.

Apa yang Terjadi Setelah QRIS Dipindai?

Ketika pengguna memindai QRIS, smartphone terlebih dahulu membaca dan melakukan decoding terhadap pola QR Code. Informasi yang diperoleh kemudian digunakan oleh aplikasi pembayaran untuk memulai transaksi.

Pada MPM statis, pengguna memasukkan nominal pembayaran secara manual. Pada MPM dinamis, nominal sudah terdapat dalam informasi transaksi yang ditampilkan merchant.

Selanjutnya, pengguna melakukan konfirmasi dan autentikasi, misalnya menggunakan PIN. Setelah itu, transaksi diproses melalui ekosistem PJP dan infrastruktur pembayaran yang terkait. Sistem akan melakukan pemrosesan sesuai standar dan ketentuan yang berlaku sebelum status transaksi diteruskan kepada pihak terkait.

Jika transaksi berhasil, pengguna dan merchant dapat menerima notifikasi pembayaran.

Bagi pengguna, seluruh proses tersebut terlihat sederhana:

Scan → Masukkan/Periksa Nominal → PIN → Berhasil

Namun, di balik proses tersebut terdapat berbagai sistem yang harus berkomunikasi dalam waktu singkat.

QRIS Bukan Tempat Uang Disimpan

Hal lain yang penting dipahami adalah QRIS bukan rekening maupun dompet digital.

Sumber dana transaksi dapat berasal dari berbagai instrumen yang didukung, termasuk simpanan, kartu debit, kartu kredit, fasilitas kredit, dan uang elektronik berbasis server sesuai ketentuan yang berlaku.

QRIS berfungsi sebagai standar pembayaran, sedangkan proses pemindahan dana dilakukan melalui infrastruktur dan pihak-pihak dalam ekosistem sistem pembayaran.

Mengapa Semuanya Terasa Instan?

Kunci dari pengalaman pembayaran QRIS bukan hanya QR Code, tetapi standardisasi dan interoperabilitas.

QRIS membuat berbagai aplikasi pembayaran dapat menggunakan standar QR Code yang sama. Karena itu, merchant tidak perlu menyediakan QR Code berbeda untuk setiap bank atau layanan pembayaran.

Satu QR Code dapat menjadi titik awal bagi berbagai transaksi dari aplikasi yang berbeda.

Jadi, ketika kita melakukan pembayaran dengan QRIS, sebenarnya kita tidak hanya sedang memindai sebuah gambar berbentuk kotak. Di balik satu pemindaian terdapat standar, aplikasi, PJP, infrastruktur pembayaran, dan sistem pemrosesan yang bekerja bersama agar transaksi dapat diselesaikan dalam hitungan detik.

Referensi

  • Bank Indonesia. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
  • Bank Indonesia. Channels and Services — QRIS.
  • Bank Indonesia. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code untuk Pembayaran.
  • Bank Indonesia. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas PADG Nomor 21/18/PADG/2019.

Tags
cara kerja QRIS teknologi QRIS MPM statis dan dinamis QRIS sistem pembayaran digital
Link berhasil disalin ke clipboard!
👋 Tanya AI Kami!
Kembali ke Atas
Chat WhatsApp
Chat Bot

Asisten GL++

Online 24/7
GL-Bot

Halo! 👋 Saya asisten virtual GL++. Ada yang bisa saya bantu tentang software akuntansi dan layanan kami?

18:11